S i s m o n o L a O d e

tiap kata akan terus mengalir

Musik Inbox, Mall, dan Kawula Muda

20081031171105-inbox-lastPERNAHKAH ANDA MERASAKAN DAN MENIKMATI “hiburan” di pagi hari? Mungkin saat itu, tepat pukul 07.30 wib., Anda baru saja terbangun dari tidur panjang (setelah shalat Shubuh), lantas mengotak-atik remote TV dan secara tidak sengaja meng-klik chanel SCTV. Ya’ pasti Anda menemukan dua sosok anak muda atau lebih, selaku presenter, yang dikelilingi ratusan kawula muda, yang menunggu lantas menikmati musik hiburan sang idola. Jika iya, cobalah Anda perhatikan lagi di manakah acara itu berlangsung?

Dua pertanyaan sederhana di atas, tentunya mudah ditebak: acara itu bernama Inbox yang kerap dihelai di mall kota-kota yang dituju. Senyatanya, program yang dimulai sejak 3 Desember 2007 ini mirip siaran radio di banyak segi. Pada setiap episode, mulai senin hingga jumat program ini “meminta” penonton untuk memilih 1 dari 20 tangga lagu yang sedang hit dan jika ada lagu yang kurang diminati, maka lagu itu dipastikan akan terdepak dari tangga lagu tersebut. Inbox juga memutar video klip pilihan pemirsa yang disampaikan me­lalui SMS; juga menghadirkan dialog interaktif dengan memakai teknologi 3G antara presenter dan pemirsa televisi. Selain itu, acara yang terkadang menghadirkan presenter Andhara Early, Asty Ananta, Evan Sanders, Dimas Beck, Andhika Pratama, dan Teuku Wisnu, semuanya adalah bintang-bintang muda yang sedang ngepop, membahas topik berita terhangat selebritis, film/sinetron, dengan menghadirkan bintang tamu selebritis pilihan.

Sungguh acara yang menghibur di kala pagi. Bagaimana tidak, seorang yang baru bangun dari tidurnya langsung dinyanyikan lagu-lagu yang sedang ngepop, belum lagi kalau yang tampil sebagai presenter adalah sang idola membuatnya menahan diri untuk mandi. Itu baru perkara, seorang pemirsa Inbox yang menonton dari layar TV, bagaimana dengan penoton yang hadir di tempat berlangsungnya acara? Penulis hanya bisa membayangkan mereka ketika melihat dalam layar kaca ajaib. Mereka terlihat begitu antusias dan menikmati kata-kata presenter, lagu-lagu musisi pilihan, dan gosip-gosip para bintang tamu. Belum lagi jika melihat acara tersebut hadir di mall-mall, sudah pasti mereka seolah-olah berada dalam surga hiburan.

Saking kuatnya aura acara ini, pihak SCTV mengklaim kalau acara Inbox sesungguhnya tidak hanya menawarkan aspek hiburan, tetapi dapat dianggap “ideologi alternatif” karena hadir untuk melawan kuatnya mainstream sinetron dan acara gosip di pagi hari, seperti KISS. “Lewat Inbox, kami ingin membuktikan bahwa acara musik pada jam kerja pun bisa ditonton. Kalau bombastisnya ya ingin membuat revolusi, soalnya kesannya ibu-ibu di rumah itu senangnya hanya sinetron dan gosip,” kata Manajer Senior Humas SCTV Budi Darmawan, sebagaimana lansir harian Kompas, edisi Minggu, 13 Januari 2008.

Sepintas alasan yang sedikit apologis tersebut dapat dibenarkan. Karena, di jam-jam itu acara gosip dan sinetron begitu membanjiri pemirsa. Hingga pemirsa pasif tidak punya pilihan untuk “menolak”. Akan tetapi, tawaran-tawaran yang diajukan oleh Inbox, bagi penulis, tidaklah jauh dari substansi program tayangan yang hendak dilawannya. Sebagai acara musik, yang dianggap” alternatif”, tayangan Inbox juga tetap menawarkan pleasure (kese­­nangan) terhadap pemirsa/penonton, sebagaimana pleasure itu terda­pat dalam tanyangan sinetron dan gosip di pagi hari.

Oleh karena itu, program musik Inbox SCTV, dalam dunia modern kekinian tidak lagi harus dilihat sebagai satu sisi otonom, yang hanya berfungsi sebagai sarana penghibur. Akan tetapi, tayangan musik Inbox juga harus dianggap sebagai produk kapitalisme yang berusaha membeli dan menjual aset hiburan tersebut untuk keuntungan ekonomis. Keuntungan ekonomis tersebut dapat dijumpai pada massifikasi kawula muda untuk hadir di Mall, yang menawarkan sejuta harapan dan juga dijumpai ketika bagai­ma­na mereka merilis lagu-lagu yang sedang hits lewat sms, yang tentunya satu sms bernilai lebih dari standar yang ditetapkan (baca: 2500 /sms).

Dengan demikian, program acara ini telah dibungkus sedemikian rupa, hingga sukar menemukan sisi orisinalitasnya. Tak heran, dalam tulisan­nya, “A Sosial Critique of Radio Music,” Theodor W. Adorno memandang musik (termasuk tayangan Inbox, pen.) telah menjadi commodity listening[1]. Adorno juga yang lain, masih yakin bahwa di dalam logika industri kebudaya­an segala kriteria dapat berubah. Selera dan hasrat senantiasa berubah di balik mesin hawa nafsu yang lahir, seperti lewat pesona iklan sebagai ekspresi dari estetika produksi komoditas kapitalisme. Segala produk dan simbol budaya pada gilirannya harus distandarisasikan, dihomogenisasikan, diko­mer­sialisasikan, dan dikomodifikasikan, karena semua hal harus menjadi produk budaya untuk konsumsi massa. Pendek kata, semua hal dapat menjadi komoditas. Tidak hanya cinta, tidak hanya kesetiaan, tidak hanya impian, bahkan tubuh, kecantikan, seni, musik, dan suara pun telah menjadi komoditas yang siap hadir dan menyapa kita, kapan dan di mana saja.

Dalam kaitan dengan community listening di atas, perkembangan musik (Inbox) dapat diyakini sebagai “bahasa universal” yang mempunyai logika dan ideologi sendiri. Lewat tayangan musik Inbox, pemirsa diberikan kehangatan insani dan makanan ruhani. Makanan dan kehangatan ini dapat dijumpai dengan hadirnya para musisi-musisi andalan pemirsa, bintang tamu, presenter. Dengan sejuta pesona yang dimiliki mereka, beserta atribut-atribut yang melekat dalam tubuh para selebriti (terutama musisi), pemirsa dibuat kagum hingga harus menghentakkan kaki atau menggerakkan kepala bahkan aliran musik yang dinyanyikannya, mampu membuat ceria hanya karena enak didengar. Di titik inilah, musik Inbox yang relatif bisa dikatakan sebagai alat alternatif untuk mengisi waktu luang (leisure) manusia modern. Bahkan, seorang Dr. Jeannette Vos, co-author buku laris The Learning Revolusion[2] mengatakan bahwa sebuah revolusi kini tengah terjadi dalam cara kita menggunakan musik. Musik yang dipandang sebagai pemicu akselerasi perkembangan otak kanan manusia ternyata dapat digunakan juga dalam meningkatkan akselerasi dan kualitas manusia dalam belajar. Artinya, musik telah berubah menjadi alat yang mampu membuat manusia belajar banyak hal, termasuk bagaimana musik mampu menggerakkan manusia untuk menikmati setiap kata yang dilantungkannya.

Demikian halnya, ketika kita mencermati fenomena musik sebagai produk industri budaya massa akan semakin tampak betapa “leisure” (waktu luang) selalu amat berkaitan dengan “pleasure” (plesir atau sarana untuk bersenang-senang). Ideologi “pleasure” hanya akan ampuh kalau “leisure” masyarakat berhasil ditaklukkan. Dengan demikian”leisure” kawula muda berhasil dikolonisasi atau dihegemoni lewat ideologi kebudayaan pop yang dikemas cantik dan menawan seperti musik, maka tidak hanya keuntungan kapital yang diraihnya, tetapi juga selera, mimpi, dan imajinasi mereka pun bukan mustahil dapat didikte bahkan secara politik mereka bisa diapatiskan. Karena, signifikansi ideologi kebudayaan massa itu justru ditentukan di dalam proses komunikasi itu sendiri.

Berkaitan dengan itu, ada baiknya kita melihat bagaimana Adorno (via Rusbiantoro, 2008: 25)[3] melihat dominasi dalam produksi budaya pop. Menurutnya, musik populer diproduksi oleh industri kebudayaan yang didominasi oleh dua proses, yakni standarisasi dan pseudo-individualisasi. Standarisasi ini merujuk pada lagu-lagu pop yang biasanya hampir mirip dan dicirikan oleh strukturnya yang dapat saling bertukar. Standarisasi juga mendefinisikan cara industri kebudayaan dalam menghancurkan segala tantangan, keaslian, autensititas, atau stimulasi intelektual dari musik yang dihasilkannya. Sedangkan, pseudo-individualisasi mencuri perhatian dengan menciptakan kebaruan atau keunikan lagu bagi para pendengarnya, dan menyembunyikan proses standarisasi ini dengan membuat lagu lebih bervariasi dan berbeda dengan lagu-lagu yang lain.

Anggapan Adorno tentang industri budaya pop di atas, tidak dapat disembunyikan lagi oleh program tayangan Inbox maupun tayangan musik populer lainnya, seperti DAHSYAT (RCTI) maupun MTV Ampuh (Global TV). Baik Inbox maupun lainnya, dalam setiap tayangannya, telah berhasil melakukan standarisasi dan pseudo-individualisasi, dengan cara-cara yang telah dikonstruksi sedemikian rupa berdasarkan kepentingan kapitalis. Standarisasi dalam musik Inbox dapat kita jumpai ketika melihat adanya kesamaan warna musik dari 20 tangga lagu yang sedang hits, sedangkan pseudo-individualisasi, dapat kita jumpai ketika acara ini berhasil men­ciptakan suasana baru dan berbeda dengan acara-acara lainnya, sela­in itu, Inbox sukses mencuri perhatian kawula muda untuk segera menonton, jika perlu ketika acara itu berlangsung di daerah tempat tinggal mereka, mereka meninggalkan jam sekolah/kuliah. Dan, tak kalah hebatnya lagi acara ini sukses menyihir ibu-ibu rumah tangga (juga kawula muda di rumah) untuk menanggalkan sinetron dan gosip di pagi hari.

Oleh karena itu, kita tidak dapat pungkiri bahwa kapitalisme global telah menjadikan musik Inbox sebagai komoditas. Sebagai komoditas, musik Inbox juga (dipaksa atau terpaksa) harus mengikuti kriteria standarisasi produk layaknya barang-barang komoditas massal lainnya. Standarisasi tersebut cenderung mengarahkan dunia musik ke dalam komodifikasi, dimana peran musik telah diubah demi meraih keuntungan semata, terutama diperoleh dari kawula muda, sebagai pasar yang menggiurkan.

Dua orang pakar cultural studies pernah mengurai bagaimana budaya musik pop memandang kawula muda, dalam bukunya The Populer Arts, Stuart Hall dan Paddy Whannel (1964)[4] mengatakan bahwa potret anak muda adalah sebagai orang lugu yang siap dieksploitasi oleh industri budaya pop. Karena itu pula, tak heran kalau Inbox (juga tayangan musik lainnya) begitu cerdas membidik kalangan kawula muda. Dengan strategi penayangan program hiburan yang menarik, tampaknya Inbox (juga tayangan musik lainnya) berhasil dalam upayanya mengembangkan dan mengeksploitasi budaya kawula muda Indonesia. Di saat yang sama, ia juga berhasil menawarkan nilai konsumerisme; konsep diri yang dikomoditaskan, dan gaya hidup yang dikemas dengan kriteria dan standar hiburan global, walaupun dalam beberapa hal, penulis tidak memungkiri, acara ini terkadang memperlihatkan nilai-nilai kelokalan. Namun justru dengan cara itulah, institusi dibalik penayangan acara musik ini secara halus (subtle) berhasil membentuk budaya kawula muda yang penuh nilai-nilai konsumerisme.

Dengan demikian, bagi kawula muda (kalau dapat kita katakan), mengonsumsi musik Inbox bisa jadi sebuah cara mengada (way of being) di dunia. Konsumsi musik digunakan sebagai tanda yang dengannya kawula muda menilai dan dinilai oleh orang lain. Menjadi bagian dari subkultur anak muda berarti memperlihatkan selera musikal tertentu dan mengkalim bahwa konsumsinya adalah tindakan kreasi komunal. Menurut Reisman[5], tidak menjadi soal apabila komunitas itu bersifat nyata ataukah imajiner. Yang penting adalah bahwa musik menyediakan sense akan komunitas. Ia adalah komunitas yang tercipta melalui tindakan konsumsi: tatkala ia men­dengar­kan musik (dalam hal ini Inbox, pen.), bahkan jika tak ada orang lain di sekelilingnya, ia mendengarkan dalam sebuah konteks “orang lain”: imajiner-tindakannya mendengarkan tentu saja sering kali merupakan sebuah upaya menjalin hubungan dengan mereka.

Alhasil, industri musik pop berhasil menjadikan kawula muda sebagai penikmat musik setia. Dengan segala kecanggihan dalam mengemas musik dan penanyangannya di mall yang menghadirkan sejuta imaji tentang dunia belanja, maka dapat dipastikan Inbox (juga tayangan musik lainnya) berhasil membentuk generasi pemuja budaya pop, sebuah generasi yang hadir dengan pakaian kesenangan dipenuhi selera citra yang mengintari identitasnya.

***

SEBAGAIMANA telah penulis katakan di atas, bahwa “keunikan” acara Inbox adalah terletak pada penayangannya di mall. Di Jogja, pernah diadakan di Ambarukkmo Plaza, di Depok di adakan di Margo City, di Medan diadakan di Sun Plaza Medan, Di Jakarta diselenggarakan di Supermal Karawaci, di Bandung diadakan di beberapa titik mall, seperti Bandung Indah Plaza, Istana Plaza, dst. Dalam kaca mata orang kebanyakan tempat penayangan tersebut tidaklah bermasalah, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan saling mendukung. Tetapi, benarkah demikian? Tidak adakah maksud lain yang lebih subtil dari tempat penayangan acara tersebut?

Untuk menjawabnya, mengetahui definisi mall adalah hal yang penting dan utama. Mall, secara semantik dapat dimaknai sebagai pusat perbelanjaan modern. Di sini, deretan tanda-tanda modernisme, terutama gaya hidup tampak terpajang, tanpa celah secuil pun. Orang-orang yang berkunjung dipastikan seolah-olah memasuki dunia baru penuh dengan imaji modernitas. Oleh karena itu, Soejadmiko (2008: 53), dalam bukunya bertajuk Saya Belanja, maka Saya Ada[6], melukiskan mall, sebagai surga bagi kon­sumerisme (a temple of consumerism), di mana, secara sadar, pengalaman belanja berlanjut hingga masuk wilayah hiburan. Mall tidak hanya merupakan tempat di mana konsumen bebas memilih dan juga merupakan pusat ekonomi, melainkan secara aktif membentuk imaji mengenai kehidupan “yang seharusnya”, dan imaji itu disebut konsumerisme. Mall boleh dikata sebagai “agama baru” bagi kawula muda.

Mall-mall perbelanjaan juga merupakan lingkungan yang amat terkontrol. Hal ini tampak pada sistem keamanan yang ada (antara lain: patroli “polisi” dan Closed Circuit Television [CCTV]. Di satu sisi, tentu saja melalui sistem ini tercipta “kota yang lebih bersahabat” (bila dibandingkan dengan situasi “di luar”). Di lain sisi, situasi ini tidak lepas dari kritik. Maksudnya, adanya CCTV membuat setiap aktivitas individu selalu terpantau sepanjang hari. Lalu, dimanakah hak sebagai individu mau diletakkan? (misalnya: ketika seseorang sedang mengambil sejumlah uang melalui mesin Automatic Teller Machine [ATM] (Soejadmiko, 2008: 55).[7]

Saking kuatnya hegemoni mall atas kesadaran manusia modern, terutama kawula muda, John Fiske menggambarkan pusat-pusat perbe­lanjaan tersebut sebagai “katedral-katedral konsumsi”[8]. Walaupun frase ini segera ia sesali, mengingat frase itu telah menyamakan konsumerisme dengan ritual-ritual ibadah profan, akan tetapi ungkapan Fiske tentunya cu­kup rasional dan beralasan, karena kegiatan berbelanja di mall begitu menga­syik­kan; bahkan banyaknya produk yang menggiurkan dipasang berjejal mengelilingi pembeli yang ketika kita melihatnya, kita seolah-olah dihipnotis untuk segera memilikinya. Pelbagai produk tersebut telah mengubah cita rasa pembeli, yang seharusnya hanya berfungsi sebagai barang dagangan, seolah-olah telah menjadi deretan “ritual keagamaan” yang siap menolong kegeli­sahan pembeli selama ini. Tak ayal, pembeli yang kebanyakan dari mereka adalah kawula muda (terutama perempuan) menganggap kegiatan belanja di mall adalah kebutuhan dasar yang penuh fantasi.

Berdasarkan asumsi-asumsi itulah, maka penayangan Inbox di mall yang banyak menghadirkan kawula muda perlu dicurigai. Kecurigaan itu dapat dituju pada hasrat musik yang identik dengan alat penguasaan kesa­daran manusia melalui perannya sebagai komoditas kapitalisme, sementara mall adalah pusat perbelanjaan yang mempertontonkan produk kapitalisme. Sedangkan, kawula muda yang penuh dengan imaji adalah pasar yang dituju dari dua industri budaya ini. Di sinilah, ketiga aspek ini: inbox, mall, dan kawula muda saling berkait-kelindang dan membawa keuntungan mu­tual­isme pada industri kebudayaan.

Mungkin sebagian penonton Inbox kurang memahami (hanya karena tidak disiarkan atau malas tahu), bagaimana suasana kawula muda, setelah tayangan Inbox dilangsungkan secara live. Kemanakah mereka? Aktivitas apa yang mereka lakukan? Apakah langsung segera balik ke ru­mah/se­ko­lah/kam­pus atau jangan-jangan mereka langsung mengejar idolanya untuk meminta tanda tangan dan siapakah yang punya kuasa melarang mereka untuk mengintari dunia imaji mall, lantas berusaha membeli produk-produk yang dikonsumsi para idola mereka?

Pertanyaan sekaligus dugaan-dugaan di atas, dapat dipastikan relatif untuk dijawab. Tetapi, kemungkinan-kemungkinan dugaan tersebut akan terjadi, walaupun dalam kuantitas yang sukar untuk ditebak. Sebagaimana telah penulis utaran di atas, bahwa penayangan Inbox di mall perlu dicurigai karena amat ideologis dan politis, maka penulis (lebih sepakat) menduga mereka tidak segera balik ke tempat semula, tetapi mengejar tanda tangan sang idola lantas “bermain-main” dalam dunia mall yang penuh tawaran yang menjanjikan. Di sana mereka bebas menonton secara telanjang image (baca: citra iklan) yang sedang populer. Lantas, mencari-cari pakaian (sebagai sumber gaya hidup) sang idola dan ketika menemukaannya dipastikan mereka akan membelinya, tanpa berpikir apakah itu adalah kebutuhan atau hasrat pragmatis sekadar untuk menemukan gaya hidup kekinian.

Dengan pakaian (baca: gaya hidup) yang dikenakan, para kawula muda ini merasa ada. Dari pakaian yang dibeli, bermimikri dengan pakaian sang idola, mereka melihat ada sistem tanda, suatu bahasa yang menun­jukkan identitas kelompok mereka dan berusaha mengkomunikasikan kepada orang lain siapa dirinya dan darimana asal-usulnya. Menurut Jack Solomon,[9] “Ada sesuatu yang hampir totemik di dalam cara kita berpakain untuk mengko­munikasikan identitas kelompok kita, kita dapat mengumumkan siapa diri kita, dan dengan siapa kita mengindentifikasikan diri.

Dititimangsa inilah, pakaian bukan saja menunjukkan totem—objek sakral yang merupakan lambang dari masyarakat tertentu dan dikultuskan—, tetapi juga merupakan ideologi yang tersembunyi. Ideologi sesungguhnya adalah sistem pemikiran, sistem kepercayaan, atau sistem simbolik. Dalam Marxisme[10], ideologi merujuk pada wacana yang mengkontribusikan repro­duksi hubungan sosial-kapitalis, dengan cara mendidik seseorang individu (juga kelompok) yang tak dapat lagi menghindar, atau dengan kema­uan sendiri, masuk dalam hubungan tersebut. Ideologi bekerja dengan cara mem­produksi subjek-subjek yang dibutuhkan oleh hubungan sosial-kapitalis. De­ngan kata lain, ideologi adalah kesadaran palsu, yang dihasilkan dari perta­rungan ideologi dominan yang masing-masing mempunyai kepentingan untuk menguasasi kelas sosial tertentu.

Oleh karena itu, di balik kode pakaian yang dikenakan para mu­sisi/selebriti dalam acara Inbox tersembunyi ideologinya masing-masing. Pakaian para musisi/selebiti ini merupakan bricolage, atau menurut Levi Stauss[11], sebagai perilaku peniruan di mana objek mengalami proses dalam penemuan makna baru dengan cara rekontekstualisasi yang dilakukan oleh para pelaku subkultur tertentu. Atau, mereka melakukan pencurian gaya dari kebudayaan atau subkultur lain (baca: sang idola) yang ditransformasikan ke dalam gaya hidup dan ideologi mereka. Akibatnya, para kawula muda itu menjadi generasi fanatik dari para musisi/selebiti, tanpa mau pernah (baca: jarang) berpikir apakah yang dilakukan merupakan kebutuhan akan dirinya/kelompoknya. Bahkan, sebagian besar dari mereka merasa “bahagia” akan penjajahan-penjahan kesadaran yang dilakukan para produsen kebudayaan melalui gaya hidup, berupa pakaian, jam tangan, HP, dst.

Jika demikian, tidak ada salahnya jika kita mengatakan para kawula muda telah melakukan pemujaan terhadap produk-produk kapitalisme, entah dalam bentuk pakaian, HP, jam tangan, dst. hanya karena ingin mengikuti dan menjadi diri sang idola. Mereka dengan bangganya menjadi bagian dari ideologi konsumerisme, walaupun dalam beberapa hal justru mereka tidak menyadari akan hal itu. Steven Miles, di dalam consumerism as a way of life[12], berpendapat bahwa kehidupan sehari-hari di negara maju (termasuk negara-negara berkembang yang telah “dikuasai” negara maju) didomonasi oleh relasi kita dengan benda-benda konsumen. Bahkan dengan ekstrimnya, menurutnya, konsumerisme meru­pa­kan agama pada akhir abad ke-20. Kon­su­me­risme memperngaruhi hidup dan sekaligus pengalaman manusia sehari-hari. Lalu pertanyaannya, menga­pa konsumerinsme begitu menawan kawula muda pecinta Inbox dan institusi mall itu? Bagi Miles, konsumerisme telah menjadi kultur konsumsi yang kita tidak sadar. Kita telah sedemikian rupa “terbungkus” oleh konsumerisme dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan yang tak terbatas dengan kemampuan yang terbatas. Konsume­risme meresapi kehidupan manusia yang pada dasarnya tidak cukup diri dan selanjutnya hanya menjadikan pengikut-peng­ikut budaya konsumen.

Dengan memahami fenomena komersialisasi budaya musik Indonesia, kita sebenarnya bisa menjelaskan bagaimana strategi budaya yang dijalankan pemilik modal dalam menguasai konsumen kawula muda (baca: ABG= Anak Baru Gede). Dalam acara musik Inbox yang amat dilekatkan dengan dunia mall, komersialisasi begitu telanjang dipertontonkan. Para kawula muda dengan sengaja digiring untuk meratapi keasyikan dunia musik lantas “menari-nari” di atas imaji mall. Kelak, menurut keyakinan para kapitalis, para kawula muda ini akan “menyembah” agama baru, yakni konsumerisme yang di bungkus dalam ideologi musik dan mall. Jika itu terus berlangsung tanpa henti, maka jangan berharap mempunyai identitas (sebuah bangsa). Karena, sesungguhnya penjajahan gaya baru telah meneror dan menguasai kita, tanpa batas ruang dan waktu. Itu saja. Tabikku!


Mengenai tulisan ini telah dimuat di harian KOMPAS Jogja/Jateng, edisi Sabtu, 7 Maret 2009. Walaupun, tidak semua sama, namun ide dan sebagian besar alur tulisannya sama.

[1] Mengenai Community Litening bisa dilihat dapat Idi Subandy ibrahim, 2007, “Budaya Populer Sebagai Komunikasi”, Yogyakarta: Jalasutra. Akan tetapi, tetap penasaran denan istilah ini, lihat T.W. Adorno. 1953.” A Social Crituque of Radio Music,” dalam Reader in Public Opinion and Communication [Enlarged Edition], New York: The Free Press Glencoe.

[2] Lihat dapat Idi Subandy ibrahim, 2007, “Budaya Populer Sebagai Komunikasi”, Yogyakarta: Jalasutra, halaman 89.

[3] Selengkapnya baca Dadang Rusbiantoro dalam “Generasi MTV”, Yogyakarta: Jalsutra.

[4] Lihat John Storey. 2007. “Pengantar komprehensif Teori dan Metode Culture Studies dan Kajian Budaya Pop”. Terjemahan. Yogyakarta: Jalasutra, halaman 125. Lebih lengkap baca: Hall , Stuart and Paddy Whannel. 1964. “The Populer Arts”. London: Hutchinson.

[5] Lihat John Storey. 2007. “Pengantar komprehensif Teori dan Metode Culture Studies dan Kajian Budaya Pop”. Terjemahan. Yogyakarta: Jalasutra, halaman 129-130.

[6] Lihat Haryanti Soejadmiko. 2008. “Saya Belanja, maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup Konsumeris”. Yogyakarta: Jalasutra.

[7] Buku Soejadmiko, telah berhasil menghantarkan pembaca dalam memahi mall, tetapi jika tetap penasaran dengan dunia mall dan bagaimana mall ini membuat manusia tergantung, ada baiknya membaca buku Alissa Quart. 2008. “Belanja Sampai Mati: Ancaman komersialisasi Remaja Masa kini”. Terjemahan. Yogyakarta: Resist Book.

[8] Lihat John Storey. 2007. “Pengantar komprehensif Teori dan Metode Culture Studies dan Kajian Budaya Pop”. Terjemahan. Yogyakarta: Jalasutra, halaman 169.

[9] Lihat Dadang Rusbiantoro dalam “Generasi MTV”, Yogyakarta: Jalasutra, halaman 104-110. Untuk lebih jauh mengetahui pandangan Solomon, lihat juga buku bertajuk “The Signs of Our time”. Los Angeles: Jeremy P. Tarcher, Inc. 1988: 170.

[10] Lihat Dadang Rusbiantoro dalam “Generasi MTV”, Yogyakarta: Jalasutra, halaman 105-107.

[11] Ibid, halaman 108-109.

[12] Milles, Steven. 1998. Consumerism as a way of life. London: SAGE Publications.

About these ads

14 Februari 2009 - Posted by | media and culture studies

15 Komentar »

  1. kayaknya sekarang bukan cuma SCTV, deh masing2 stasiun televisi dengan cepat melesat membalap seniornya : INBOX

    Sebut saja RCTI dengan Dahsyat
    Trans TV dengan Derings Radio dan Top Sert
    Antv dengan Klik
    Indosiar dengan KISS VAGANZA
    Belum lagi siaran musik langsung seperti Superdual Band, Hip Hip Hura, Music By Request. Yang jelas keberadaan acara musik tersebut bisa dikatakan sudah menggeser pamor acara Musik Television a.k.a MTv yang dulu begitu populer dan mainstream bagi anak nongkrong (muda). So, akhirnya dangdut yang sekarang lebih banyak ditampilkan di TPI semakin tersisih dan trepinggirkan

    Komentar oleh ecka | 16 Februari 2009

  2. Makasih ya Njang atas komentarnya. Bagi saya, Inbox adalah muara/Ibu, sedang yang lain hanyalah pengikut/anak yang berusaha memecah belah pasar musik (Inbox) dengan karakter yang sedikit berbeda, tetapi kesemua-muanya sama saja. Ideologinya adalah PASAR. Klau masalah Dangdut, menurutku, bukan perkara tersingkir atau tidak. Nafas dan ruh Dangdut di zaman visual culture saat ini adalah sama dengan Inbox, dkk. Memang tampaknya Dangdut “tersingkir” tetapi sesungguhnya aliran musik ini hanyalah kalah bersaing. Dia kurang strategi, berbeda dengan awal-awak kemunculan SiJoget Pantat Inul. Perlu dicatat, generasi ikon musik pertama di Indonesia diwakili aliran dangdut. Di tahun 70-an, Bang Rhoma menjadi ikon yang tak terkalahkan, waktu itu dia begitu menghegemoni terhadap musik lain (rock). Musik Dangdut menjadi populer, Namun generasi berikutnya, sekitar tahun 80-an akhir, SlanK tiba dan menjadi ikon Generasi Kedua, Selanjutnya diikuti oleh Iwan Fals dengan OI-nya dan tahun 2000-an diambil ahli oleh Sheila on7. Jadi menurut penulis….apapun jenis/aliran musiknya, jika telah dibungkus dengan industri musik, maka akan melahirkan budaya mainstream yang berpihak pada PASAR! Tabikku

    Komentar oleh sismono laode | 18 Februari 2009

  3. Tataran kampus yaitu sebagai pencetus para kader2 bansa melenceng dari yg kenyataannya diman Dalam buku Intelektual Yg progresif Karya eko Prasetyo menyatakan bahwa kini intelektual baik muda dengan sandanan jabatan/status sosial sperti Prof,DR,Ir, dll hanya lah sebagai simbolis dimana intelektual yg mereka miliki tersebut kini dapat diperjual belikan…

    Dari situ kita dapat tarik sebuah benang merah, diman kebutuhan pasar mendominasi nilai2 intelektual sekarang ini..Ex: Kampus yg kini akan berikan kewenangan kepada pihak asing untuk menanamkan modalnya dikapus yg nota benenya setiap hukum dibuat semau pasar n yg jelasnya g ada perusahaan yg mau rugi..

    Saya sebagai kaum muda yg turut perihatin akan iyu mengajak kepada semua para intelek muda intuk menyikapi bukan dalam bentuk teori tapi aplikasi nyata,,salam pembebasan n salam perjuangan

    Komentar oleh Che ZOEL | 9 Maret 2009

  4. terima kasih…..untuk meningkatkan semangat kaum muda kita, sepertinya kita harus membaca (ulang) buku REVOLUSI PEMUDA Karya Ben Anderson.

    Komentar oleh sismono laode | 9 Maret 2009

  5. Em’sh, q mow nxa nech, inbox gmna ce, cranya ngirim mms k inbox.
    plizzz, Blz y

    Komentar oleh Gweanthy | 26 Maret 2009

  6. inbox,q mow nanya ne gmna ce cranya mms ke inbox.

    Komentar oleh Gweanthy | 26 Maret 2009

  7. maaf saya, saya belum pernah mengirim mms, makanya saya juga masih bingung cara. kalau udah bisa, saya akan konfirmasi. tabikku

    Komentar oleh sismono laode | 3 April 2009

  8. acarax Inbox uda bgus ko, kelbihan Inbox tuh selalu menampilkn Band2 trbru (musisi2 yg penampilanx fress banget) LANJUTKAN Y… Oiya q bingung nih carax krim MMS K’INBOX…

    Komentar oleh Sisilia | 23 Juni 2009

  9. BozZ aku mau mms
    ke inbox
    trus gmn caranya y?
    Tolong d jawab
    ke hp/imail aku
    085749603666
    &
    iswan.flavo@gmail.com

    Komentar oleh Iswan | 29 Juni 2009

  10. bagus…..jika dipandang menghibur…tapi Anda harus paham bagaimana ideologi kapitalistik bekerja dalam acara itu……thank

    Komentar oleh sismono laode | 30 Juli 2009

  11. wah tulisan yang sungguh inspiratif. Tak pelak kita hidup dalam dunia industri modern yang kapitalistik. Begitu banyak berhala modern yang tanpa sadar sudah merasuk dan menjadi bagian hidup masyarakat modern.

    Salam

    http://budhikw.wordpress.com

    Komentar oleh budhikw | 14 September 2009

  12. kirimin dong tangga lagu inbox setiap harinya ya. tanks
    by: cowok keren
    rengat

    Komentar oleh yogie | 25 Oktober 2009

  13. hai ivan,gading,& andika: aku pengen salam-salm bwat tmen2 di skansa rengat,khususnya nax XI akuntansi 1,belajar yg rjinya…… truz bwat kk klaz 3 yg lg magang bekerja yg baik ya……….tanks inbox.

    Komentar oleh raka | 25 Oktober 2009

  14. ivan kapan sech… inbox mampir di rengat, sekali2 tampil donk di rengat….

    Komentar oleh raka | 25 Oktober 2009


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: