S i s m o n o L a O d e

tiap kata akan terus mengalir

“Suami-suami Takut Istri”: Perempuan Tetap Saja Nomor Dua

SINETRON KOMEDI (sitkom) Suami-suami Takut Istri”, adalah sitkom yang ditayangkan di Trans TV setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00 WIB sejak 15 Oktober 2007. Sitkom ini digarap oleh rumah produksi Multivision Plus di bawah arahan sutradara Sofyan De Surza dan produser pelaksana Anjasmara. Serial yang mengisahkan kehidupan sehari-hari disebuah kompleks perumahan ini diperankan oleh Otis Pamutih sebagai Sarmili (Pak RT), Aty Fathiyah sebagai Sarmila (Bu RT), Marissa sebagai Sarmilila (anak Pak RT), Irfan Penyok sebagai Karyo, Putty Noor sebagai Sheila (istri Karyo), Yanda Djaitov sebagai Tigor, Asri Pramawati sebagai Welas (istri Tigor), Ramdan Setia sebagai Faisal, Melvy Noviza sebagai Deswita (istri Faisal), Epy Kusnandar sebagai Mang Dadang (Satpam Perumahan I), Desi Novitasari sebagai Pretty, Ady Irwandi sebagai Garry, dan Ki Daus sebagai dirinya sendiri (Satpam Perumahan II).

 Apa persepsi awal ketika menonton sitkom ini? Sudah tentu berkisar mengenai kasus pelecehan suami yang dilakukan para istri. Tayangan yang telah memasuki episode ke-150 (terhitung pada 18 Oktober 2008) ini terang-terangan memvisualisasikan adegan kekerasan dalam rumah tangga dalam pelbagai bentuk. Sebut saja, kekerasan dalam bentuk teror mental, seperti memaki dan menghina dan kekerasan dalam bentuk fisik, seperti mencubit dan memukul sang suami. Para suami dengan seenaknya dipanggil, diperintah, bahkan disiksa sang istri tanpa melihat situasi dan kondisi di sekitarnya. Ya’ para istri dengan bebasnya menunjukkan “kekuatannya”, walaupun di kiri-kanan, depan-belakang, ada orang lain. Mereka tak peduli! Dan anehnya, sang suami-suami, yang dengan fisik yang kuat pun takluk seketika. Bahkan, tokoh Carla, anak dari Karyo sangat berani mencubit dan menghina Ayahnya sendiri.

 Jika demikian, sitkom ini dapat merepresentasikan bahwa laki-laki juga dapat ditindas oleh perempuan. Perempuan tidak lagi menjadi the second sex, tetapi berubah menjadi subjek yang menindas laki-laki, sebagai representasi ideologi partriarki. Ideologi Patriarki merupakan paham yang meredusir stereotip laki-laki dan perempuan sebagai sebuah pertentangan sifat, alam (nature), hakikat, kodrat, citra, dan makna yang polaristik, yang di dalamnya laki-laki menempati posisi yang dominan, positif, meng­untungkan dan perempuan dalam posisi subordinat, negatif dan merugikan. Pola­risasi tersebut kemu­dian dipandang sebagai sesuatu yang alamiah atau common-sense, bukan ideologis (lihat Yasraf A. Piliang dalam Gender Horrographi”: Kekerasan terhadap Perempuan dalam Pemberitaan Pers). Lantas, benarkan persepsi bahwa ideologi partriaki telah “terkalah­kan” dalam sitkom yang diproduseri Sofyan De Surza tersebut?

 Sepintas iya. Namun, cobalah kita melihat sisi lainnya. Sejauhmana peran para istri di sana? Mengenai apa narasi teks (dialog) apa yang dibangun? Dan amati dengan jelas, jika posisi para istri cenderung di wilayah domestik. Nah, ketika Anda telah mengamati, saya yakin Anda mungkin membenarkan asumsi saya. Begini asumsi saya: Ketaklukan sang suami, ternyata masih saja ambivalen. Paradoks. Memang sang suami takut, tetapi ketakutan mereka masihlah sebatas normatif, dan itu sudah biasa terjadi di wilayah dominasi patriarki. Bukanlah hal yang biasa, ketika sang istri marah jika suaminya berselingkuh atau menggoda wanita lain. Pun halnya dalam sitkom ini, para istri marah sekali jika suami-suami mereka akan berencana atau sedang menggoda Prety, tokoh wanita idaman di komedi suami-suami takut istri. Hanya saja di sitkom ini, cara meng­ekspresi­kan kemarahan sang istri sangat berlebihan.

 Inilah, yang menurut saya menipu penonton. Seolah-olah kevulgaran tersebut menan­dakan penaklukan sang suami. Tetapi justru, menunjukkan bahwa perempuan cen­derung sentimentil, emosional, layaknya distreotipkan dalam diskursus gender selama ini, terutama dalam media massa. Gender, menurut Caplan (1987) dalam The Cultural Construction of Sexuality merupakan perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan selain biologis, di mana sebagian besar justru terbentuk melalui proses sosial dan budaya. Dalam konstruksi ini perempuan cenderung identikan dengan sifat lemah lembut, emosional, pasif, bekerja di wilayah domestik, menjaga anak, dan sebagainya, sedangkan laki-laki identikan sebagai seorang yang kuat, rasional, kuat, bekerja di wilayah publik, dan sebagainya.

 Mengenai wilayah kerja tersebut, sitkom ini tetap saja memosisikan perempuan sebagai ibu rumah tangga, yang senang belanja dan membicarakan orang lain, sementara tokoh-tokoh laki-laki, seperti Sarmili (sebagai Pak RT), Karyo (sebagai pekerja kantoran), Mas Dadang dan Kidaus (sebagai Satpam), Udah Faisal (sebagai penulis) tetap dicirikan seba­gai subjek yang bekerja di publik, sebagaimana pekerjaan yang mereka lakoni. Bah­kan, jika wilayah domestik para istri-istri tersebut diganggu atau bahkan dirampas sang suami, mereka begitu marah! Sampai-sampai sang suami disiksa. Berbeda halnya de­ngan para suami, yang tetap enjoy dengan kapasitas mereka sendiri, terlebih-lebih ketika mereka mem­bincangkan sosok Prety dengan imajinasi yang aduhai liarnya.

 Oleh karena itu, kasus-kasus kecil tersebut di atas, bagi penulis tetap merepresentasikan bahwa laki-laki masihlah seperti realitas kehidupan sesungguhnya. Ia tetap mimikri dari dominasi ideologi patriarki. Bahkan, keberadaan Prety, merepresentasikan bahwa pe­rem­puan amat melekat dengan citra “mempertontonkan” tubuh, senang digoda, terpe­ngaruh dengan konsumsi pelbagai produk-produk kecantikan ala iklan, atau dengan kata lain perempuan adalah pelampiasan hasrat kelaki-lakian. Anda boleh saja tidak sepakat. Tetapi demikianlah realitas yang saya baca. Karena dengan alasan apapun, industri media (TV) amat jarang melakukan dekonstruksi makna realitas yang telah dominan. Ter­lebih, kajian-kajian mutakhir tentang media membuktikan (periksa Pungente, 1993: 9-10 via Kris Budiman, dalam Feminis Laki-laki dan Wacana Gender, 2000) bahwa keba­nyakan media (massa) berfokus pada perempuan dan/atau feminis. Hal ini, agak­nya, tidak dapat dilepaskan dari persepsi umum bahwa perempuan merupakan makhluk yang “bermasalah” dari pada laki-laki.

 Jika demikian yang terjadi, maka sitkom “Suami-suami Takut Istri” sama saja telah “me­ne­lanjangi” perempuan sebagai the second sex, sekaligus subjek/objek yang bisa dima­nipulasi oleh kesadaran palsu yang dibekengi iklan dan industri TV, demi mem­produksi kapital sebanyak-banyaknya. Bahkan, perempuan pun tidak lain dari objek ke­kua­saan Mang Dadang. Bukankah demikian?

 

Tabikku.

27 Oktober 2008 - Posted by | media and culture studies

2 Komentar »

  1. Aduhhh mon, napa pula masih belajar berkata-kata. di Ekspresi belum belajar ya… aku aduin eka nih mon…

    Komentar oleh ahmed | 18 November 2008

  2. ya di ekspresi kan bukan final. tapi, awal dari belajar kata-kata. bravo ekspresi

    Komentar oleh sismono laode | 7 Desember 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: