S i s m o n o L a O d e

tiap kata akan terus mengalir

Politikus Luna Maya

luna maya

Sebelumnya, penulis minta maaf sama kekasihku, Si Luna Maya. Karena, tanpa sepengetahuannya tulisan ini kubuat. Sebenarnya dia sih nggak akan marah, soalnya kata “selebriti” saya ganti menjadi “politikus”. Sesuatu yang lebih keren, lebih suprise, dan lebih bermutu. Bukan begitu kekasihku…?

Namun, zaman pemilu 2009 ini, saya dibuat aneh. Para politik kini berlomba-lomba menjadi engkau kekasihku. Tiap hari wajah mereka muncul di layar kaca. Menjual ‘dagangan’ sana-sini; memoles wajah mereka dengan pelbagai slogan, yang semuanya bermuara pada kepentingan rakyat. Di layar kaca yang ajaib itu pula, kita melihat mereka begitu dekat dengan rakyat jelata, pedagang asongan, petani, nelayan, anak-anak sekolah, orang-orang tua, bahkan kaum muda sekalian. Semua subjek/objek ini menyatu dalam “aura” sang politikus tersebut. Aura yang dibuat-buat bahkan cenderung memaksa. Mereka otoriter, sayang! Bayangkan, ketika saya lagi asyik-asyiknya menonton program yang dibintangimu, tiba-tiba mereka, secara berulang-ulang, muncul mengusik ketenangan untuk terus memandangmu. Anehnya, mereka tak bosan-bosannya menawarkan dirinya untuk menggantikanmu, dengan stile yang tak ada perubahan.

Sampai-sampai tetangga kamarku, dulunya seorang aktivis, langsung terpikat dengan pesona Gerindra. Beda lagi, dengan tetangga kamar yang lain. Dia bilang kagum dengan pemilik “Hidup adalah Perbuatan”. Demikian pula, tetangga kamar yang lainnya, dia menyukai Sang Hati Nurani Rakyat. Dan seterusnya… Memang, tiap-tiap tetangga kamarku punnya memori terhadap tokoh politik yang berbeda. Saya terdiam dan bertanya-tanya dalam diri!

Tanpa sabar, saya pun bertanya kepada mereka, “Kok, Anda bisa menyukainya, “Pokoknya Prabowo yang bisa atasi Negara,” demikian jawabnya. Begitu pula dengan teman-teman yang lain, mereka dengan argumennya mengatakan, “Pokoknya Wiranto dapat membuat Negara Kuat” dan “Memang hidup itu adalah perbuatan, dan seterusnya. Wah saja jadi heran, mengapa mereka begitu tergoda-goda dan meyakini opini iklan tersebut. Saya hanya bertanya, “Atas dasar apa asumsi itu dibangun.” Apakah mereka sadar atau tidak? Atau jangan-jangan kesadaran mereka telah diubah dengan ideologi di balik iklan itu? Dan, bagaimana jika suatu saat mereka kehabisan uang, lantas tidak hadir di media lagi? Bukankah make up yang dipakainya telah luntur?

Selain mereka telah tersihir kekuatan media, bisa jadi mereka seperti kata Elisabeth Noelle-Newman mengenai public opinion and the spiral of silence (opini publik dan gelombang kebisuan), mereka merupakan orang-orang yang secara alamiah mengalami ketakutan terkucil, dimana dalam mengungkapan opini publik mereka berusaha menyatu dengan arus utama. Mereka ketakutan jika berdiri pada posisi yang berlainan. Dengan simbol-simbol yang ditampakkan di TV, seolah-olah representasi sosok tersebut adalah kebenaran sejati, yang tak terbantahkan. Ya’ mirip dengan Dewa penyelamat. Mereka pun dengan patuhnya, menganggap sekaligus melegitimasi segala bentuk pencitraan yang dikonstruksi dan tidak mau memosisikan diri sebagai oposisi binner. Sebuah kekerasan simbolik pun terjadi tanpa pemberontakan dan mereka hanya membisu akibat derasnya gelombang opini publik tersebut.

Saya makin takut, sayangku, mereka telah menjadi Anda. Bedanya sedikit, Anda lebih tampak menjual produk barang, sedang mereka lebih menjual diri mereka sendiri ketimbang produk ide. Lantas, membungkus diri mereka sendiri dengan sesuatu yang luar biasa, walaupun irasional dan hiperealis—suatu dunia di mana image atau mimpi-mimpi telah menjadi penting dan utama ketimbang kenyataan. Harapannya, apalagi kalau bukan mengejar popularitas demi mendulang suara di pemilu 2009. Jadi, kata-kata dan perbuatan yang ditancapkan dalam kepala setiap penonton adalah kebohongan belaka. Karena itu lahir hanya untuk menyambut pesta rakyat.

Sungguh aneh politikus saat ini. Mereka rela menghabis-habiskan uang ratusan milyar untuk menjual diri di pelbagai media, sebut saja TV, internet, media massa, baliho, billboard, spanduk, kaos, topi, dan sebagainya. Kalau menurut informasi dari Kompas, maaf saya lupa edisinya, mereka rata-rata telah menghabiskan anggaran sebesar Rp. 300 milyar, terutama iklan Si Hidup adalah Perbuatan dan Gerindra. Angka yang begitu fantastik jika langsung diberikan rakyat yang membutuhkan atau membantu anak-anak putus sekolah.

Tetapi, saya tidak dapat menggugat, apalagi meminta mereka untuk lebih sosial. Karena, saya tahu mereka adalah orang-orang cerdas yang punya modal ekonomi; modal kultural dan politik; dan modal pendidikan. Mereka pun tahu kalau zaman telah berubah menjadi zaman yang penuh ilusi dan manipulasi visual. Masyarakat dianggapnya telah terlalu percaya dengan efek media. Padahal, ada sebagian masyarakat yang muak dengan mereka, termasuk kekasihmu ini, yang tidak mungkin terpengaruh dengan janji-janji kebohongan itu. Saya “hanya percaya” dengan engkau kekasihku.

Mereka kurang sadar dengan itu sayangku. Mereka masih bersikukuh bahwa saat ini adalah zamanmu kekasihku. Mereka ingin menjadi Kamu—memikat para penggemar kota ajaib dan realitas visual lainnya. Menebar pesona sana-sini hingga pacarmu ini CEMBURU !

 Tabikku,

 

9 November 2008 - Posted by | universal

3 Komentar »

  1. Lebay, hahahaha?
    salam Pers dari cah Amikom.

    http://ucoxsart.wordpress.com

    Komentar oleh Pangeran Ucoxs | 9 November 2008

  2. pasti emak lo lom beli cermin.
    lebayyyyyyyyyyyyyyyy nya ga ketulungan bro…
    nyebur aja loe ke laut.
    da da bye bye…………………………………………………………………………………………………………

    Komentar oleh titonk | 26 Juli 2009

  3. wah…kalau udah kayak gini saya hanya bisa berkata pengarang telah mati……Jika anda ngk sepakat, silakan nulis…biar kita perang wacana. tabik atas masukannya

    Komentar oleh sismono laode | 30 Juli 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: