S i s m o n o L a O d e

tiap kata akan terus mengalir

GENERASI 21

THE NET GENERATION telah datang! Demikian Don Tapscott mengawali bukunya, Growing Up Digital: The Rise of the Net Generation. Rupaniefrustration1ya revolusi komunikasi dan informasi telah membentuk generasi baru lengkap dengan dunianya. Suatu fenomena yang sukar dibayangkan dan disaksikan sebelumnya. Anak-anak zaman kini telah berubah. Mereka telah menjadi bagian dari informasi karena mereka tumbuh dan berkembang dalam lingkungan media, terutama digital. Kemajuan teknologi informasi inilah yang ditengarai Tapscott melahirkan media-literate kids—anak-anak yang melek media.

Media digital (baca: internet) memang merupakan ruang digital (digital space) baru yang menciptakan ruang kultural (culture space) baru bagi generasi abad ke-21, selanjutnya penulis singkat dengan istilah generasi 21. Di Indonesia, generasi 21 ini telah muncul di mana-mana seiring kuatnya arus informasi. Mereka hadir dengan atribut masing-masing. Ada yang hadir sebagai generasi telenovela, generasi sinetron, generasi musik (MTV) , generasi pesolek, generasi gamer, generasi HP, dan seba­gainya. Mereka pun berupaya menunjukkan identitasnya sebagai arena perta­rungan ideologi tanpa batas dan henti. Itu mungkin tidak disadari, tetapi dengan gaya hidup yang melekat pada tubuh dan pikirannya, kita dapat melihat mereka pada kategori apa.

Sebagai ilustrasi, produk handphone (HP) yang pada awalnya adalah terobosan dalam mobilitas alat telekomunikasi, kini tidak lagi difungsikan sebagaimana fungsi awalnya. Masyarakat kita, apalagi generasi 21, merasa memiliki HP, jika HP tersebut memiliki desain dengan tampilan “terbaru” sesuai dengan karakter psikologi mereka, yang rata-rata dipengaruhi hasrat iklan. Ia harus memiliki berbagai fitur, seperti game, notepad, akses internet, kamera, video, audio, diary, dan seterusnya, yang semua itu dapat memuaskan imaji konsumen. Selain itu, citra merek yang tetap terus dibangun oleh produsen dan pemasarnya agar dapat memberikan simbol kebanggaan semu bagi generasi 21.

Lantas bagimana dengan penggunaan internet dalam pelbagai medium? Tentunya, dalam beberapa hal memunyai kesamaan dengan motif penggunaan HP, terutama pada efektifitas penggunaannya. Generasi 21 menggunakan internet melulu pada seks dan kekerasan, bukan pada kecenderungan pencarian data informasi yang lebih edukatif. Kita pasti tidak melupakan pelbagai pemberitaan media massa mengenai maraknya tingkat kebolosan anak-anak sekolah di beberapa kota besar. Setelah diselediki, ternyata umumnya mereka berada di warung-warung internet dan kebanyakan dari mereka mengakses fitur-fitur seks, kekerasan, dan game. Dalam wawancaranya dengan wartawawan BBC siaran Indonesia, Nuraki Aziz, mantan Menkominfo RI, Sofyan Djalil mengatakan bahwa saat ini pornografi sangat banyak di internet dan kerap kali anak-anak menjadi sasarannya.

John Naisbitt dalam bukunya High Tech High Touch: Technology and Our Searching of Meaning, generasi muda ini tengah terjebak dalam “zona-zona mabuk teknologi” (Technologically Intoxicated Zones). Mereka ini menjadi yang mengkonsumsi media terutama televisi dan internet yang kandungan utamanya seks dan kekerasan. Mereka ini mulai tercerabut dari nilai-nilai masa lalu dan menjadi generasi yang panik. Mereka menjadikan simbol-simbol dan nilai-nilai dari kebudayaan pop, sebagai rujukan, sambil mencampakkan nilai-nilai tradisional dan agama yang dijunjung tinggi orang tua dan generasi-genarasi sebelumnya.

Selain itu, kajian kritis juga datang dari Peter F. Drucker, seorang pakar manajemen dan profesor ilmu sosial di Claremont Graduate School. Di dalam artikelnya bertajuk Beyong the Information Revolution, Drucker mengulas secara kritis dan cermat perkembangan radikal dalam dunia internet yang telah menstranformasikan dunia cyberspace untuk tujuan-tujuan bisnis dan komersial, yang kemudian akrab disebut e-commerce. Menurutnya, e-commerce secara luar biasa telah mengubah struktur ekonomi, pasar, dan industri; produk dan jasa serta alirannya; segmentasi konsumen; nilai-nilai konsumen; prilaku konsumen; pasar; dan buruh. Tetapi, dampak yang lebih luar biasa lagi adalah terhadap masyarakat dan politik, di atas semua itu, terhadap cara pandang kita terhadap diri kita sendiri dan dunia ini.

Berdasarkan data internetworldstats, pada 2008, penggunaan internet di Indonesia telah mencapai 25 juta pengguna, dengan tingkat pertumbuhan selama delapan tahun mencapai 1. 150 persen. Pada tahun 2000, pengguna internet hanya mencapai 2 juta. Kondisi ini jauh berbeda dengan Cina. Sebagai negara paling tinggi tingkat pengguna internet di Asia, pada tahun 2000 tingkat pengguna sudah mencapai 22,5 juta dan tahun 2008 meningkat tajam menjadi 253 juta pengguna, dengan tingkat pertumbuhan selama delapan tahun hanya mencapai 1. 024 juta, masih di bawah Indonesia.

Selama delapan tahun itu, masyarakat Indonesia, terutama generasi 21 sedikit banyaknya berubah. Mereka tidak lagi digerakkan oleh nilai-nilai mapan tradisional (ataupun agama), tetapi justru digerakkan oleh dunia yang datar, televisi dan internet. Wacana yang dibangun pun dalam mengkomunikasikan sesuatu, berkutut mengenai hal di atas. Akibatnya, sebagian dari mereka terkadang asosial dan bahkan sulit berkomunikasi dengan keluarganya sekalipun, hanya karena berbedaan gaya hidup. Orangtua mereka hidup di masa yang jauh dari dunia yang datar, sementara mereka hidup di alam virtual dan cyber.

Penulis tidak menyangkal kalau internet punya banyak manfaat. Baik dari sisi pengguna maupun industri kreatif. Untuk pengguna, internet sangat membantu dalam pencarian informasi apapun tanpa mengenal ruang dan waktu. Pengguna hanya menekan “sesuatu yang diinginkan” pada MR. Google, informasi tersebut muncul seketika; sangat praktis dan efisien. Kita pun sering mendengar dan membaca bahwa kebanyak para “pemenang olimpiade sains” adalah pelajar yang juga senang mengutak-atik internet dan game, Selain itu, dunia internet mampu menciptakan inovasi baru dalam industri pemasaran, melalui inovasi periklanan, distribusi, dan pemasaran lainnya. Bahkan, tingginya penggunaan internet secara tidak langsung mampu menyerap tenaga kerja baru. Di bidang industri kreatif saja, selama periode 2002-2006, telah menyerap sekitar 5,4 juta pekerja dan menyumbang Rp 81,5 triliun atau 9,13 persen terhadap total ekspor nasional (Kompas, 5/12/2008). Artinya, jika industri ini dilirik oleh pemerintah, maka beban pemerintah untuk mengurai pengangguran dapat diatasi dengan baik.

Hanya saja, ketidaksiapan pemerintah, masyarakat, dan orang tua dalam menyikapi perkem­bang­an dunia internet menimbulkan efek yang kurang menyenangkan dalam pengguna­annya. Sebagian besar dari generasi 21 terbuai dan mabuk dalam zona-zona internet. Mere­ka sukar mengingat waktu jika telah bersentuhan dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan internet. Perilaku lupa makan, beribadah, menyatu dengan keluarga, kerabat, tetangga, dan teman-teman menjadi gaya hidup dari mereka. Mereka asyik dengan citra diri sendiri; generasi 21. Akibatnya, citra (baca: gaya hidup) menjadi sesuatu yang utama ketimbang nilai. Mereka pun cenderung terpengaruh kebudayaan pop yang kian hegemonik, massif, dan sporadis, yang mampu menggilas tataran nilai, moralitas, dan etika.

Fenomena ini jauh berbeda dengan negara-negara Asia lainnya seperti Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan. Keempat negara ini merupakan negara yang besar dengan tingkat penggunaan internet terbilang tinggi. Akan tetapi, untuk meminimalisir efek negatif dari penggunaan internet, pemerintah membuat regulasi yang jelas. Di Cina lewat 14 peraturan pemerintah daerah secara tegas melarang perjudian lewat internet, sementara di Korea Selatan, penggunaan game yang dimainkan lewat salah satu fitur internet, telah diatur sedemikian rupa. Di sana, menjamurnya penggunaan fasilitas game dan internet, diikuti dengan menjamurnya fasilitas bimbingan dan konseling bagi anak-anak yang habis bermain game (internet). Sehingga, setiap arena game dipastikan ada tempat bimbingan dan konseling yang mampu mengkomunikasikan efek-efek sosial bagi si anak.

Jika demikian yang terjadi, kita mungkin dapat menyebut generasi 21 di bumi pertiwi ini adalah generasi yang belum semuanya (sebagian dari mereka) sadar akan posisi mereka. Mereka hanya berbuai dan bangga dengan godaan zona-zona yang memabukkan, tanpa harus berpikir dampak negatif yang ditimbulkan. Yang jelas, sebagian dari mereka bangga mengatakan Saya Berinternet, maka Saya Ada!

7 Desember 2008 - Posted by | universal

1 Komentar »

  1. ya, saya sepakat dengan tulisan itu, bahwa generasi muda saat ini telah lupa akan substansi penciptaan teknologi. Mereka cenderung mengikuti arus pemegang otoritas pemilik industri, yang biasanya kurang memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.
    Saya juga punya saran, jika tulisan tersebut diberikan bebrapa contoh yang menguatkan argumentasi penulis.

    Komentar oleh Rahmat | 9 Desember 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: